Visitasi Klasis Kartasura di GKJ Manahan

Hari ini, Kamis (25/8) di GKJ Manahan dilaksanakan visitasi oleh BAPELKLAS Kartasura. Visitasi dibuka dengan menyanyikan pujian dari Kidung Jemaat No. 3 dipimpin oleh ibu Widyarti Riani Hutapea, dilanjutkan pelayanan Firman oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan kotbah yang didasarkan Surat Filipi 2: 1 – 11. Dalam kotbahnya, Pdt. Fritz menyatakan mengenai persekutuan. Tentang bagaimana kita berkumpul sore ini, ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada yang sudah sepuh, yang setengah baya maupun kaum muda. Namun, kalau kita dikatakan berkumpul, apakah selalu berpadu? Belum tentu. Itulah yang dimaksudkan oleh Rauven Kahane ketika ia mengatakan “Mixed but not combined” dalam bukunya The Problem of Political Legitimacy in an Antagonistic Society : The Indonesian Case (London: Sage Publication, 1973). Di Indonesia ini, orangnya memang berbaur dengan suku, agama dan golongan yang berbeda-beda. Tetapi sekalipun berbaur, tetapi tidak berpadu. Artinya ada kemungkinan adanya disintegrasi bangsa. Sehingga tak heran dewasa ini kita sering melihat perpecahan dalam bangsa ini.

Ibadah Minggu, 21 Agustus 2011

Ada yang beda dalam ibadah minggu (21/8) jam 18.00, ibadah kali ini menggunakan variasi instrumen musik untuk memandu nyanyian jemaat. Sekalipun yang dinyanyikan adalah Kidung Pujian dan Nyanyian Rohani, tetapi penggunaan band sebagai pengiring nyanyian dalam ibadah ini dirasakan sangat baik dan memberikan penyegaran dalam bernyanyi bagi jemaat. Ibadah dipimpin oleh bapak Kis Yudhanto dengan kotbah yang didasarkan dari Roma 12: 1-8, dengan judul sesuai ketetapan sinode GKJ yaitu Menjadi Saksi Mesias di Tengah-Tengah Bangsa Kita.

Berikut ini ringkasan kotbahnya. Kita mungkin sering melihat calo di terminal. Di terminal Tirtonadi, biasanya para calo ini berteriak-teriak menawarkan jurusan bus, mengantarkan penumpang akan tetapi dia sendiri tidak akan sampai ke kota tujuan yang ditawarkannya. Jangan sampai kita menjadi seperti calo yang berteriak-teriak mengenai hal kerajaan Sorga akan tetapi justru kita yang tidak akan sampai ke sana.

Ibadah Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 66 di GKJ Manahan

Nuansa merah dan putih memeriahkan suasana ibadah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 di GKJ Manahan, hari rabu (17/8) yang lalu. Tak hanya dalam dekorasi gereja, tetapi jemaat juga serempak mengenakan pakaian bernuansa warna merah dan putih. Ibadah peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia diawali dengan prosesi perarakan bendera Merah-Putih beserta para petugas dirigen, pembaca teks proklamasi, pembaca teks pembukaan UUD 1945 beserta Pendeta dan para majelis.

Yesus Cinta Segala Bangsa

Judul renungan warta gereja Minggu ini, "Yesus Cinta Segala Bangsa", asyik tetapi juga tidak asyik. Jika dibaca oleh orang-orang atau bangsa-bangsa yang belum mengenal dan percaya kepada Yesus, maka diharapkan agar mereka tertarik dan menerima Yesus yang mencintai mereka. Hal tersebut, tentu, mengasyikkan bagi kita yang sudah mengenal dan percaya kepada Yesus karena bertambahnya anggota komunitas. Tambah bala. Tidak mengasyikkan bila kita menyaksikan orang yang mencintai kita, ternyata juga mencintai orang yang memusuhi kita, membenci kita, dan yang kita musuhi (paling tidak, tidak kita senangi).

Berpusat Kepada Allah

Hidup memang sulit bak meniti buih, demikian kita memahaminya. Berjalan diatas air, walaupun rasa-rasanya lebih gambang daripada meniti buih (oleh karena surface tension/ tegangan permukaan air lebih kuat, lebih tebal dari buih) tak pelak lagi keduanya merupakan kerja yang super sulit bahkan sia-sia. Itulah hidup, itulah kesulitan hidup.

Pembekalan Guru Sekolah Minggu Se-Klasis Kartasura

Melayani dalam Sekolah Minggu bukanlah suatu pelayanan yang mudah dikerjakan, pelayanan ini memerlukan kompetensi para pelayan, baik itu Guru Sekolah Minggu maupun Pelayan Sekolah Minggu. Hal inilah yang menjadi salah satu latar belakang adanya Pembekalan Guru Sekolah Minggu Se-Klasis Kartasura yang diselenggarakan minggu (7/8) yang lalu di Gedung Serba Guna, GKJ Manahan. Kegiatan pembekalan ini bertema “Melayani Lebih Sungguh” dengan Korintus 15:58 yang mendasari pemikiran tema ini.

Wisata Rohani Paguyuban Mitayani di Ndayu Park Sragen

Paguyuban Mitayani GKJ Manahan telah mengadakan kegiatan Wisata Rohani Selasa (26/6) yang lalu. Berkumpul di GKJ Manahan, para anggota Paguyuban Mitayani berangkat menggunakan dua bus menuju Ndayu Park Sragen.

Dalam kegiatan wisata rohani tersebut, ibadah dipimpin oleh ibu Sumiati Sukardi C sebagai pemimpin pujian yang mengajak peserta memuji Tuhan dengan Kidung Pasamuan Kristen 16 bait 1, kemudian dilanjutkan pembacaan Alkitab dan doa pembukaan. Perenungan Firman Tuhan disampaikan oleh Sdr. Sularto dengan Amsal 16:31 dan Yesaya 46:4 sebagai dasar perenungannya.

Empat Tahun Rumah Doa Meester Soewidji “Membangun Karakter Kasih Melalui Persekutuan Dengan Allah Dalam Doa”

Rabu (27/7) minggu lalu, pengurus Persekutuan Doa Malam Minggu menyelenggarakan ibadah ucap syukur atas berlangsungnya persekutuan di Rumah Doa Meester Soewidji selama 4 tahun ini, ibadah ini juga merupakan ungkapan syukur atas selesainya proses pemindahan hak kepemilikan rumah doa ke GKJ Manahan. Dalam kesempatan ini pula dilakukan peresmian penggunaan buku pujian oleh Divisi Litbang, yang digunakan sebagai salah satu pelengkap sarana ibadah. Ibadah dimulai jam 18.00 WIB diawali dengan menyanyikan Kidung Jemaat 392 dipimpin oleh Ibu Yuli Karpono.

Ibadah Minggu, 31 Juli 2011 “Memberi Diri Bagi Sesama”

Ibadah Minggu (31/7) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pdt. Fritz Yohanes Dae Panny, S.Si dengan menggunakan liturgi ibadah minggu ke 2. Kotbah didasarkan dari Injil Matius 14: 13-21, berikut ini ringkasan kotbahnya. Tentunya kita semua sering memperhatikan kehidupan. Kehidupan dulu dan sekarang sangatlah berubah. Anak-anak SD zaman dulu, berangkat sekolah hanya membawa 1 buku, berbeda dengan sekarang anak-anak bersekolah membawa banyak buku. Kalau dulu sepulang sekolah bisa bermain, anak-anak zaman sekarang istirahat sebentar lalu ikut berbagai macam les. Anak-anak sibuk, orang tuapun sibuk. Dengan banyaknya kesibukan kita, masihkah kita bisa memberikan diri kita untuk sesama kita?

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Jika kita berkaca didepan cermin, bergaya dengan cara memberi, maka pantulan cermin diri kita juga bergaya memberi ke arah kita. Jika kita bergaya seperti menahan berkat, maka akan terlihat cerminan kita sedang menahan berkat terhadap kita. Jika kita memberi sesuatu atau permen ke anak kecil dan kita menguji anak kecil dengan meminta balik lagi permennya dan anak kecil itu menolak, jengkelkah kita? Tetapi jika kita menguji dan anak kecil dengan rela mau memberikan kembali permen kepada kita, akankah kita ambil? Tentu tidak. Banyak orang tidak suka mendengar kata 'memberi' yang berarti harus berkorban atau membagikan apa yang kita punya kepada orang lain.