Persekutuan yang Menyembuhkan

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Kehidupan sosial budaya timur terkenal dengan konsep paguyubannya, terkhusus ketika kita berbicara dalam kehidupan orang Jawa. Ada beberapa falsafah yang menunjukkannya: mangan ora mangan sing penting kumpul, rukun agawe santosa. Ki Ageng Suryomentaram mengatakan: “sapa wonge golek kepenak liyane ngepenake tanggane, iku padha karo gawe dhadung sing njiret gulune dhewe” terjemahannya kurang lebih: “barang siapa mencari kenyamanan sendiri dan mengabaikan kenyamanan orang lain, bagaikan menyiapkan tali untuk menjerat lehernya sendiri”. Nampaknya melalui falsafah tersebut, kehidupan sosial masyarakat Jawa memiliki nilai yaitu hidup seseorang tidak bisa dilepaskan dari komunitas disekitarnya. Sehingga melahirkan pengertian: “Guyub punika lairing mangertos dhateng gegayuhaning sesrawungan ingkang leres inggih punika sakeca sesarengan, beja sesarengan” (Ki Ageng Suryomentaram). Guyub itu tumbuh karena ada pengertian yang benar akan gambaran tentang pergaulan, yakni enak bersama-sama dan beruntung atau bahagia bersama-sama.

Ibadah Minggu, 29 September 2013 “Penyertaan Tuhan Melalui Kehidupan Doa”

Ada sukacita bagi jemaat GKJ Manahan dalam ibadah Minggu hari ini (29/9) saat beberapa jemaat GKJ Manahan menerima sakramen sidi dalam ibadah jam 06.30 WIB dan sakramen baptis dalam ibadah jam 08.30 WIB. Pendeta Samuel Arif Prasetyono, S.Si melayani ibadah jam 08.30 WIB dengan menggunakan liturgi khusus hari doa Alkitab. Kotbah didasarkan dari Yosua 1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Mendengarkan Firman Allah dan Bermurah Hati

Shallom, Bp/Ibu/Sdr. Yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus! Ada pepatah mengatakan: LEBIH BAIK TANGAN DI ATAS DARIPADA DI BAWAH, ini sangat dalam maknanya. Ini sebuah pembelajaran yang perlu dipahami, ditanamkan dalam pikiran dan hati, serta diaplikasikan oleh setiap orang yang mengaku bahwa dirinya adalah murid Kristus Yesus (orang Kristen). Bermurah hati tidak akan menyebabkan kita menjadi miskin dalam banyak aspek. Inilah karakter utama yang seharusnya dimiliki oleh para murid Tuhan Yesus Kristus.

Ibadah Minggu, 15 September 2013 Ketika Sampah Masyarakat Bertobat

Ibadah Minggu (15/9) di GKJ Manahan jam 16.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fritz Yohanes Dae Pany, S.Si dengan menggunakan Tata Ibadah Minggu I. Kotbah didasarkan dari Injil Lukas 15: 1-10 perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan dirham yang hilang. Dalam kotbahnya, pendeta Fritz menyatakan bahwa dalam kehidupan kita bermasyarakat pasti muncul sebuah pernyataan demikian :“untuk apa menolong orang itu, orang itu layak dimusnahkan; lebih baik tidak ada di dunia ini!” Sebuah kalimat penolakan, yang mungkin sering kali telah kita dengarkan. Ada orang-orang yang menginginkan orang lain disingkirkan dari kelompok masyarakat. Dan biasanya, orang yang disingkirkan disebut sebagai sampah masyarakat.

Di tengah-tengah masyarakat, ada sekelompok orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Dianggap sebagai orang yang tidak berguna dan disingkirkan dari antara masyarakat. Tetangga-tetangganyapun akan sulit  menerima keberadaan orang-orang yang di cap sampah masyarakat.

Ibadah Minggu, 2 September 2013 "Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan"

Ibadah Penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013 hari ini, Minggu (1/9) di GKJ Manahan jam 18.00 WIB dilayani oleh Pendeta Fendi Susanto, S.Si. Dalam ibadah yang menggunakan liturgi khusus ini, Ibrani 10:36 menjadi nats pembimbing. Kotbah didasarkan dari Lukas 14: 7-11. Berkaitan dengan penutupan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2013, Pendeta Fendi menyatakan bahwa dalam tema "Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan" ada 2 kata kunci yaitu 'disiplin' dan 'kualitas'.

Keadilan dan kesejahteraan di Indonesia bisa terwujud jika anak-anak bangsa mau menjadi generasi yang berkualitas. Republik Indonesia telah merayakan kemerdekaannya selama 68 tahun, namun muncul sebuah perenungan yang muncul seiring bertambahnya usia bangsa kita. Banyak anak bangsa yang masih hidup belum merdeka, baik secara ekonomi, hukum maupun sosial. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak anak-anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. 

Bagaimana mungkin cita-cita luhur bangsa ini bisa tercapai jika generasi muda tidak mendapat pendidikan berkualitas?

Hidup Benar di Hadapan Tuhan

“Semua orang tentunya ingin hidup benar, tidak hanya dihadapan Tuhan tetapi juga didepan sesama kita. Bahkan sejak kecil kita sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu dengan benar, berbicara dengan cara yang benar, bersikap dengan cara yang benar.” Demikian pernyataan Pendeta Retno Ratih Suryaning Handayani, M.Th, MA mengawali kotbahnya dalam Persekutuan Doa Akhir Bulan, hari Sabtu (31/8) yang lalu.

Sekalipun hidup benar adalah panggilan, harus kita akui bahwa orang-orang yang hidup tidak benar itu lebih banyak, dan realitanya mereka ada dalam masyarakat. Dimana-mana ada kekerasan, tidak hanya secara komunal tetapi bisa antar priadi bahkan dalam rumah tangga (KDRT) dan sering kali ada pembiaran terhadap kekerasan yang terjadi.

Mendisiplinkan Diri Membangun Kehidupan

Sanadyan rumpil marginya
Nging Gusti tansah nganthi
Nadyan ribed lan sangsara
Datan semplah ing ati

Refr : Margining Salib ingambah
Mbangun turut maring Allah
Mbabarken tresna sejati
Mrih jagad tentrem basuki
(KPK Anyar 82: 4)